• Diksi 1

    Halaman SDN Mataram Musi Rawas Mei 2024

  • Diksi 2

    SMP Terbuka TKB Batu Kucing Musi Rawas (Sekarang, Musi Rawas Utara)

  • Diksi 3

    Kegiatan Akhir Pengajar Praktik Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9

  • Diksi 4

    Rumah Virus Literasi (RVL) Kopdar 2

  • Diksi 5

    Kota Kenangan

Sajak Mulut Harimau, Puisi yang Ditulis oleh Suprihationo Sardi

Di Grup WA RVL, bertebaran para penulis puisi, tidak hanya prosa (cerpen, artikel, pentigraf, dan sebagainya).

Pusi yang ditulis pun beragam. Ada puisi lama seperti pantun dan karmina, ada pula puisi baru, kontemporer, dan genre puisi hasil kreativitas penyair atau akademisi.

Berikut satu di antara puisi yang muncul di grup WA Rumah Virus Literasi karya Pak Suprihationo Sardi. 


Sajak Mulut Harimau

Oleh: Suprihationo Sardi 


Aku bertanya :

Ada apa dengan mulut harimau?

bibir bawahnya sedikit menjorok ke dalam

misai tak pernah dihitung jumlahnya

taringnya tajam melekat kuat di rahang 

lidahnya tak bertulang

ada aroma anyir darah

harimau tak pernah gosok gigi 

tertawanya  pongah 

ha…, haa…, haa…!


Aku takut dengan senyum dan aumannya

menggelegar pongahnya mengalahkan gajah 

kadang hanya nyengir pamer gigi emasnya

lurik kulitnya bagai sarung gajah duduk

pada hal gajah duduk pun tak pakai sarung

tak pongah meski tak pakai kopyah


Harimau sirkus mau belajar tidak pongah

ikuti komando pawangnya 

dan dia tetap pongah !

ha…, haa…, haa…!

pongah harimau viral di medsos

melanglang buana gaduhkan nuansa bertetangga


Sang pawang kesal menyumpahnya 

bak kumpulan diksi sumpah serapah di tempat sampah

mulutmu harimaumu

candaanmu  stand up komedi belaka 

tak bermakna dalam keberagaman sesama

biarpun tanpa air mata buaya

terstigma: harimau pongah sakit parah !

gelisah lupa arah


Jaga mulutmu!

berkatalah yang baik-baik saja atau diam, 

diammu adalah emas 

itu pesan Rasul pembawa risalah-Nya. 



Miroto, 11 Desember 2024


Disalin apa adanya, tidak ada penyuntingan ejaan atau apa pun.

Share:

Ketika Selera Berbicara, Sebuah Pentigraf Anggitan Bunda Telly D

Sumber: https://www.ef.co.id/englishfirst/kids/blog/makanan-tradisional-indonesia-yang-kaya-nutrisi-dan-mudah-didapat/



Bunda Telly D, seorang pensiunan, mantan Kepala P4TK Matematika Yogyakarta adalah satu di antara penulis produktif RVL (Rumah Virus Literasi).

Beberapa buku sudah beliau terbitkan. Di Grup WA RVL, sering menulis pentigraf, cerpen tiga paragraf. Plot twist-nya kadang mengundang senyum tidak jarang membuat kening berkerut, dan emosi mendidih. Berikut pentigraf karya beliau.


Ketika Selera Berbicara

Oleh Telly D 

Persahabatan saya dan Rina telah terjalin sepanjang hidup. Kami teman sejak kecil, bagaikan langit dan bumi yang saling melengkapi meski sangat berbeda. Saya dilahirkan dari keluarga kaya, sementara Rina anak dari pelayan keluarga kami. Lekuk tubuh saya yang anggun dan wajah cantik dengan kulit halus sangat kontras dengan Rina yang memiliki tubuh kurang proporsional dan wajah yang biasa saja.

Banyak orang menasihati saya untuk berhati-hati dengan kedekatan Rina dan suami saya, namun saya tak pernah  mempercayai gosip tersebut. Saya yakin selera wanita suami saya baik. Tahu membedakan emas dan tembaga. Hari ini,  saya mengajak Rina dan suami menikmati makan malam di restoran yang menawarkan steak terenak di kota. Saya memesan Bone-T Ribeye dengan Mushroom Sauce, sementara Rina memilih Chuck Eye Steak dengan Black Pepper Sauce.

Ketika menu pesanan  tiba, saya terkejut melihat Rina dengan penuh keyakinan suka mengambil potongan steak Ribeye yang sudah saya gigit. Dengan nada arogan, dia berkomentar bahwa rasanya lebih menantang jika dia bisa mengambil  milik orang lain. Saya memandang suami saya. Dari tatapan itu, saya mulai memahami kebenaran dari rumor yang beredar.  Tak ada lagi yg dapat saya pertahankan. Tanpa banyak bicara, saya memindahkan semua steak Ribeye ke piring Rina dan berkata, “Jika demikian, ambillah semuanya.”

Makassar, 26 Juli 2024 










Share:

Sang Guru, Puisi Menarik dari Bu Kanjeng

Logo RVL (Rumah Virus Literasi)
Dok. WAG RVL



Bu Kanjeng di Grup RVL (Rumah Virus Literasi) tergolong penulis 'tua' yang amat produktif. Ibu Sri Sugiastuti, seorang guru dan juga Kepala Sekolah sering menjadi mentor kepenulisan dan sempat dijuluki Ratu Antologi. Berikut puisi yang beliau bagikan di Grup RVL


Sang Guru

Oleh: Bu Kanjeng


Guruku, 

kau bintang kejora terangi malam,

ayun langkahku ke jalan terang.

Ilmu yang kau bagi sejukkan jiwa,

dan hapus dahaga atma

sabarmu tenggelamkan amarah 

kasih sayangmu hangatkan dunia

seulas senyummu buatku optimis.


kau lukis masa depanku

kau kuatkan mimpi-mimpi,

meraih bintang di angkasa

kau selalu ada, warnai hidupku

namun, kadang di balik senyummu

ada berjuta lelah, berjuta masalah. 


sang guru

sosok berlian nan berkilau

kau lekat dalam doa, 

dan abadi di hidupku.


Surakarta Hadiningrat, 06122024 








Share:

Pentigraf: Sepotong Singkong

 

Singkong, Sumber: wikipedia



Pentigraf 

SEPOTONG  SINGKONG

Oleh: Telly D 


Rani duduk di sudut kamarnya, menggenggam secangkir teh hangat. Pikirannya melayang ke novel In Search of Lost Time karya Marcel Proust, dimana sepotong madeleine menjadi jembatan nostalgia. Dengan hati-hati, ia mengambil sepotong singkong bakar dari piring Ia mencelupkan ujungnya ke dalam teh dan membiarkan rasanya melebur berbaur di lidah  dalam keheningan waktu yang meluruhkan rasa  



Masa kecil yang penuh kekurangan menyeruak. Ia melihat dirinya kecil, duduk di bawah terik matahari, menunggu ibunya membakar singkong di tungku reyot. Saat itu, singkong adalah makanan mewah, satu-satunya yang bisa mengganjal perut kosong. Rasa hangus di lidahnya kini membawa suara tawa ibunya, meski lelah, tetap ceria menghiburnya. Rani tersadar, singkong yang dulu ia benci kini menjadi simbol ketegaran dan cinta.


Tak terasa air matanya jatuh berderai-derai Secangkir teh di tangannya bukan sekadar pengingat; ia baru saja kehilangan ibunya kemarin. Singkong gosong dan hangus sebelah, adalah singkong yang terakhir dibakar ibunya untuknya. Rasa pahit dan aroma hangus itu kini lebih dalam, mengikat kenangan sekaligus kepergian yang memilukan hati.


Pakuwon City, November 2024

Share:

Pentigraf: Hantu di Toliet Sekolah

 

Sumber: freepik.com


Hantu di Toilet Sekolah

Oleh: Bu Kanjeng 


Bangunan gedung di SMA Merah Putih tergolong bangunan lama hasil pampasan perang dengan Jepang. Tak heran ada beberapa ruang yang dianggap angker oleh penjaga sekolah dan guru-guru senior. Selain ruang, toilet di sebelah timur gudang sekolah juga dianggap angker. Konon, ada nenek-nenek tua yang suka bermain air di sana. Setiap malam, suara gemericik air dan tawa cekikikannya terdengar jelas. Bahkan, ada beberapa siswa yang mengaku pernah melihat penampakan sosok nenek-nenek itu dengan rambut panjang putih yang menjuntai.


Amira, Sinta dan Renata, memutuskan untuk membuktikan sendiri kebenaran cerita itu. Mereka menyelinap ke toilet pada malam hari. Saat itu ada kegiatan gladi bersih untuk pentas Seni yang akan digelar esok hari. Hati mereka berdebar kencang saat memasuki ruangan yang gelap gulita itu. Tiba-tiba, lampu toilet mati dan terdengar suara gemericik air yang semakin keras. Mereka berteriak ketakutan dan berhamburan keluar.


Keesokan harinya, seluruh siswa heboh. Saat mereka sedang membahas masalah kejadian semalam itu, Pak Rizal bagian cleaning service datang. Ia menjelaskan semalam kran air di toilet rusak dan air menggenangi lantai. Suara gemericik air yang didengar bukanlah ulah hantu, melainkan kebocoran pipa. Sosok nenek-nenek yang mereka lihat itu bayangan mereka sendiri yang terpantul di cermin yang retak akibat kebocoran air. Mereka saling pandang mendengar  penjelasan tersebut.


Soloraya, 27 November 2024








Share:

Pantun Nasihat

Abaya (Sumber: tokopedia.com)






Pantun Nasihat
Oleh: Bu Kanjeng 

 1.Pergi ke pasar membeli abaya,
   Dipilih yang halus dan cantik.
   Jadilah penyemangat penuh upaya
   Disayang teman karena simpatik
.
 2.Bunga melati harum di taman
   Mekar mewangi indah dipandang.
   Jaga tutur kata yang sopan,
   Agar hati penuh kasih sayang

 3. Bulan terang di saat purnama
   Cahayanya indah menembus hati
   Jadilah inspirasi bagi sesama,
   Sebagai pembelajaran sejati

 4 Burung berkicau di dahan rindang,
   Suaranya merdu menggema di teras
   Tersenyumlah obati yang bimbang
   Memberi nasihat hati yang keras

 5. Air jernih mengalir di kolam
   Banyak ikan berjoget gembira
   Hati bersih harus ditanam
   Jangan pernah banyak bicara

 6.Pelangi muncul setelah hujan,
   Warna-warni indah dipandang 
   Fokuslah pada satu tujuan
   Jangan  sampai asa terhalang

 7.Gunung Merapi tinggi menjulang
   Kokoh berdiri di balik cahaya
   Semua janji harus dipegang
   Jadilah orang yang dipercaya

 8.Laut luas simpan berjuta rahasia,
   Gelombangnya bergulung-gulung.
   Hidup ini jangan disia-sia
   Jadilah pribadi tangguh dan ulung

 9. Bulan purnama bersinar terang,
   Menerangi gelapnya malam.
   Jadilah teladan untuk banyak orang 
   Jangan dekati perbuatan haram

 10.Kupu-kupu cantik tersenyum manis
   Menghisap madu dengan ceria
   Nikmatilah hidup dengan optimis
   Dengan penuh syukur dan bahagia 

Surakarta Hadiningrat, 11 November 2024








Menyemai dan Menuai
Oleh: Sri Sugiastuti 

manisnya kata muluskan hajat
ilmu memikat penuhi hasrat
bangga saat berkhianat
demi ambisi syahwat mencuat
kau semai dengan licik

seribu ucap berbuih
licinnya lidah penuh rayuan
kapan kan tunaikan janjimu
belasan purnama  aku menunggu
harap cemas bermain di kening

jangan salahkan
bila ada coreng di wajah
citramu hancur
netizen menghakimi
saatnya menuai
ada murka-Nya
berakhir pada sesal
tak berujung 

Soloraya, 31 Juli 2024


Penghuni Rumah Kosong
Rita Audriyanti

 ​“Saya berenti, Pak. Gak kuat kerja di sini. Saya digodain terus. Kepala perempuan itu selalu nongol dari jendela. Ini sudah tiga kali. Saya takut,” kata Slamet sambil memasukkan pakaiannya ke dalam ransel lalu bergegas numpak ojek yang sudah menunggu.
 ​
Ipin melepas Slamet sampai hilang di ujung gang. Dibuangnya puntung rokok di selipan jarinya.

 ​“Gitu aja takut.” Ipin berguman dengan senyum miring. Cuma dia satu-satunya tukang yang masih berani tidur di lokasi kerja. Dua malam lalu, Ipin nekad mengejar sosok perempuan ke arah kamar utama di lantai dua. Sosok berambut panjang itu cekikikan. Ipin ingin menjambaknya. Begitu tiba di depan kamar, sosok gaib itu hilang membentuk gumpalan asap.

 ​“Gila kau, setan!” teriak Ipin marah. 

Tak sengaja, matanya tertuju ke lantai.

 ​“Rambut siapa ini? Pasti kuntilanak itu!” 

Dipungutnya lalu dimasukkan ke dalam dompet.
 ​
Tukang terus datang dan pergi. Sunik, tukang paling muda berbadan ceking, baru dua hari bergabung. Ipin mengajaknya tinggal bersama. Sunik mau. Malam hari, keduanya menghabiskan waktu sambil ngobrol. Api unggun dari sisa kayu menghangatkan malam dan mengusir nyamuk. Tapi, mata Sunik selalu melirik ke arah kamar mandi. Seperti ada orang.
 ​
“Iya, Mas, sebentar,” tiba-tiba Sunik berkata sambil mengangguk ke arah kamar mandi.
 ​
“Siapa?” tanya Ipin.

​ “Itu, Mas Tarjo. Tukang aduk semen. Dari saya datang ngajak ngobrol mulu,” kata Sunik bangkit menuju kamar mandi tempat penyimpanan semen dan cangkul.
 ​
Ipin kaget. Tarjo? Ia sudah lama meninggal. Tarjo jatuh dari lantai sepuluh waktu sama-sama membangun apartemen.
 ​
Kejadian yang sama terulang lagi malam-malam berikutnya. Sunik asyik bercengkrama dengan Tarjo di depan kamar mandi. Ipin membiarkan. Kata Sunik, siang hari Tarjo ikut bekerja walau tanpa bicara. Tukang yang lain tidak ada yang tahu.
 ​
“Sunik, Tarjo malam ini di sini lagi, gak?” tanya Ipin penasaran.

 ​“Katanya sudah izin mandor pulang kampung.”
 ​
Malam terakhir sebelum serah terima kunci, Ipin mengecek semua kamar. Begitu pintu kamar utama dibuka, Ipin meloncat kaget. Ada sosok perempuan tepat di hadapannya. Berhadap-hadapan. Separuh wajahnya tertutup rambut dan sebagian lagi penuh darah. Saking kagetnya, Ipin jatuh terduduk. Lemas. Dari lantai bawah, Sunik mendengar suara seperti orang jatuh.
 ​
“Mas…” Sunik berlari ke arah Mas Ipin.

 ​Ipin berusaha bangun tapi tak berdaya.

 ​“Kenapa, Mas? Pusing? Kubuatkan kopi, ya?” Ipin mengangguk pelan. Sunik membantunya berdiri.
 ​
Renovasi sudah selesai. Pak Ryan dan Bu Sinta menginap, menikmati rumah baru. Malam itu hujan rintik disertai angin kencang membuat dahan pohon berayun-ayun. Suara anjing tetangga melolong. Beberapa kali terdengar suara mendehem dekat kamar mandi. Bu Sinta menoleh tapi tidak ada siapapun.
​ 
Hari semakin malam. Obrolan suami isteri ini sudah ke sana ke mari. Mata keduanya pun semakin berat. Akhirnya, mereka tertidur di ruang tamu, di sofa masing-masing. ​

Baru saja keduanya terpejam, terdengar suara ‘cekrek’ empat kali disertai lampu padam lalu nyala lagi. Bu Sinta membuka mata. Diintipnya stop kontak sumber suara. Tidak ada sesiapa. Bu Sinta mulai takut. Lalu ia menutup sekujur tubuhnya dengan selimut.
 ​
Saat sarapan, Bu Sita bertanya, “Semalam ada yang mainin lampu, Pak. Dimatiin. Diidupin. Matiin. Idupin lagi.”
 ​
“Loh. Kirain Ibu yang lakuin…”
 ​Bu Sinta kaget. Ia tersedak.


Jakarta, 30/7/2024


Pesantren 

Oleh: Ari Susanah

Hari ini tepat dua minggu putri sulung kami yang baru lulus dari bangku sekolah Dasar belajar di pesantren. Sesuai dengan peraturan pesantren yang berlaku saat ini, sebelum 40 hari seluruh santri dilarang untuk dikunjungi. Tak terkecuali dengan putri kami. 

Namun Senin kemarin, salah satu pengurus memberi kabar kepada kami bahwa orang tua wali murid diizinkan untuk menelpon. Bahkan lebih dari itu, kami diizinkan menggunakan video call. Senang sekali rasanya bisa melihat putri sulung kami bertambah dewasa dan mandiri. 

Namun sayangnya saya lupa menanyakan batas waktu untuk menelpon. Yang saya tahu hanya bisa melakukan komunikasi setelah jam pulang sekolah. Kira-kira sekitar lewat pukul 14.30.

Saya sengaja menunggu suami pulang mengajar terlebih dahulu. Suami saya biasa pulang mengajar pada pukul 17.30. Langsung seketika suami pulang, saya langsung mengirim chat pada nomor pengurusnya. Saya sampaikan bahwa kami baru sempat menelpon. Dan ternyata langsung mendapatkan respon balasan. Akan tetapi di luar perkiraan saya. Jam batas waktu untuk menelpon telah usai. Kami diminta untuk menelpon minggu selanjutnya. 

Rasanya kecewa dan sedikit menyesal, mengapa tidak dari tadi-tadi siang tanpa menunggu Abinya pulang terlebih dahulu. Kasian juga sulungku pikirku dalam hati.

Tiba-tiba handphone sayapun berdering. Dari arah sana pengurus memberi tahu bahwa kami mendapat dispensasi untuk kali ini. Karena mungkin baru pertama kali bisa menelpon. Kami diberikan waktu 5 menit untuk bisa berkomunikasi. Dan juga karena mungkin pengurus yang saya belum kenal namanya tersebut tahu bahwa sulung kami begitu berharap bisa bertemu dengan orang tuanya meskipun hanya lewat video call.

Setelah dapat tersambung dengan putri kami, rasa haru pun menyeruak dan meleleh  air mata kami. 5 menit rasanya cukup untuk membayar rasa rindu kami. Juga karena sebentar lagi adzan Maghrib akan berkumandang. Kami bersyukur telah diberikan waktu untuk berjumpa lewat video call.

Sehat selalu untuk Sholehahku, putri sulungku. Semoga Allah selalu memberikan keberkahan ilmu dan perlindungan untuk nya. Aamiin ya rabbal alamiin 

Tambun Selatan, 30 Juli 2024



Mendekap Malam

Jumantara tersaput mega
Kegelapan menyelimuti bentala
Siang berkawan baskara
Berganti malam bertabur gemintang

Malam menyiratkan keheningan
Menyimpan sepi dan tenang
Tempat mengistirahatkan raga 
Serta jiwa yang nendekap malam

Duhai, malam begitu memikat!
Binar bintang memunjukkan pesonanya
Menemani hati menginstropkesi diri
Atas tindak tanduk hari ini

Elegi Senja

Kala itu
Hari menuju sandyakala
Gurat merahnya menghiasi mega
Tampak elok memikat mata

Keindahannya menjadi penanda
Kau pergi tanpa berpamitan
Bagai daun yang berguguran
Perlahan meninggalkan rantingnya

Kulepas kau dengan sejuta kenangan
Pada ribuan hembusan nafasku yang begitu menyesakkan
Canda tawamu dahulu adalah milikku
Tapi kini telah sirna bagai titik-titik kehilangan temu

(Dyah Imani)




Tulisan 2 : Digitalisasi, Transformasi Administrasi

Oleh. Syaiful Hidayat

Di era digital ini, transformasi administrasi menjadi kebutuhan yang mendesak bagi berbagai sektor, baik itu pemerintahan, bisnis, maupun pendidikan. Digitalisasi administrasi bukan hanya tentang mengubah format dokumen dari kertas ke digital, tetapi juga melibatkan perubahan proses, budaya, dan cara kerja yang lebih efisien dan efektif. Transformasi ini memiliki dampak signifikan terhadap berbagai aspek, mulai dari efisiensi kerja hingga peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Klik untuk dibaca https://syaiful-hidayat.my.id/2024/07/30/tulisan-2-digitalisasi-transformasi-administrasi/ 




 Lidah Mertua
Oleh: Sri Sugiastuti 

Senyum manis bernada sinis
Hiasi ruang lembab 
Kata orang kau
Si pembawa sial 
Kata orang kau 
dewi keberuntungan
Hatimu tegar 
Tak peduli orang mencibir

Lidah Mertua 
Tetap memesona
Saat semua orang bilang
Kau berbisa dan tak berguna 
Di tepi jalan kaulah penyerap racun

Manusia hanya bisa mencerca
Melihat dari kasat netra
Menipis rasa percaya
Berpikir tanpa rasa
Ambyar

Soloraya,  31 Juli 2024


RUMAH TAHANAN

@srirahayu

kokoh berdiri
angkuh
dingin
sepi di tengah
keramaian
membalut duka
penghuninya
menyesal 
tanpa daya
terpenjara
bersimpuh
melangitkan doa
taubatan nasuha
Kebonsari, 30.07.2024
P.2.0
TAHANAN KOTA
@srirahayu
aturan menjerat
atas tindakan
tak terduga
terlena
tak berizin
menjejakkan kaki
menerobos batas
cakrawala
terperangkap
menghiba
Kebonsari, 30.07.2024
P.2.0
TAHANAN RUMAH
@srirahayu
kebebasan 
terampas
penguasa
mengatur
kehidupan
maya
dalam keburaman
meraih kemerdekaan
semu 
keluarga mengekang
gamang bertindak
menjelang senja
tak berdaya
Kenonsari, 30.07.2024
P.2.0
Share:

KELO MRICO KULINER SEHAT DARI PANTURA TIMUR

Foto kiriman Suprihationo Sardi (GWA RVL)


KELO MRICO KULINER SEHAT dari PANTURA TIMUR 
Oleh: Suprihationo Sardi 

Teman-teman yang suka kuliner sehat,
berikut ini saya bagikan resep dan cara mengolah masakan KELO MRICO.

Resep ini telah kami ikutkan lomba memasak komunitas ibu-ibu PKK di Baki dan meraih pemenang  dua

Selamat memasak.

📝 Bumbu:
Jinten, jahe, kunyit, brambang, bawang, trasi, lombok, daun Salam, sere, laos, daun Jeruk, asam jawa, tomat ijo, tanpa digongso.

📝 Bahan:
Ikan tuna/tongkol/sembilan. ikan berdaging tebal.
Ikan tidak perlu digoreng.

📝 Cara Memasak :
siapkan bumbu yang sudah dihaluskan, rebus air, setelah mendidih masukkan bumbu, daun salam,  lalu langsung ceplungkan ikan ke kuah yang sudah dibumbui.  Rempahnya yang berani biar tidak amis. Setelah mendidih 10 menit kecilkan api lalu matikan. Masakan siap dihidangkan bersama sayur asem glandir.

🤝 Semoga bermanfaat 🙏

Saran:
Agar daging ikan tidak hancur, setelah matang ditiriskan. Hidangkan dengan kuah yang dihangatkan kembali.

Salam kuliner sehat bahagia senantiasa.




Postingan bersumber dari Grup WA RVL (Rumah Virus Literasi)
Share:

Pengikut Diksi

Beli Domain Banyak Discount

www.domainesia.com

Postingan Populer

Label

Recent Posts

Theme Support

Butuh bantuan kami untuk upload atau kustomisasi Template blog ini? Hubungi Saya dapatkan detail kustomisasi tema yang Anda butuhkan.